Selasa, 28 April 2009

“ Bekerja, Berusaha dan Belajar melalui Program KBU (Kelompok Belajar Usaha) PNF “

Kelompok Belajar Usaha (KBU) merupakan program pembelajaran yang menyediakan dan memberikan peluang kepada masyarakat dalam pengembangan pengetahuan dan keterampialn dalam rangka peningkatan pendapatan melalui bekerja dan berusaha. Tujuannya untuk memperluas kesempatan belajar, berusaha bagi warga masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi dan berpendidikan rendah serta mempersiapkan mereka agar memilki pendapatan tetap dari keterampilan yang mereka usahakan. Prioritas peserta KBU antara lain warga masyarakat yang tergabung dalam Keaksaraan Fungsional (KF), Kejar Paket A setara SD, Kejar Paket B setara SMP, Kejar Paket C setara SMA dan/atau peserta lifeskills sebagai program Pendidikan Non Formal (PNF).

Pola belajar berusaha berupa pola bersama mengelola dana belajar secara bersama-sama dalam bentuk kelompok dengan jenis usaha yang sama serta pola mandiri, dimana warga belajart dalam mengelola usahanya dikelola dan diusahakan oleh masing-masing warga belajar secara terpisah dengan jenis usaha yang berbeda-beda tetapi dalam ikatan kelompok. Adapun penyelenggara KBU diantaranya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Kelompok Masyarakat, Pondok Pesantren, Kelompok PKK, Koperasi, Organisasi Sosial dan yang sejenis lainnya yang peduli pada program PNF.

Tolak ukuir keberhasilan program KBU yaitu bilamana warga belajar dapat mengembangkan dan memasarkan hasil usahanya, menilik pendapatan yang tetap atas, keterampilan yang dikelolanya serta dapat mengembangkan dana belajar usahanya dan menggulirkannya pada KBU rintisan yang lain.

Catetan Kaki: Maraji’/Cateran Kaki: Buletin Kejar Jayagiri BP-PLSP Regional 2 Edisi Pertama, Bulan April 2006 & www.bpplsp-reg2.info .

Created by: Muhammad Faisal Anjar Basunondo (Aa Faisal)
HIMA PRODI PLS FKIP Untirta, Serang-Banten
Alamat: PKM FKIP Jalan Raya Jakarta KM.4 Pakupatan Serang-Banten
Phone: (0254) 280330 Ext 111 Serang Hp: 08568992668


“ Mari bersama FKIP PLS UNTIRTA
membangun Prestasi dan kemitraan untuk
Memberikan pelayanan terbaik “

Senin, 27 April 2009

“ Program KWD bagi Masyarakat Pedesaan “

Kursus Wirausaha Orientasi Pedesaan (KWD) adalah program Kursus yang diselenggarakan secara khusus, untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat pedesaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuh kembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggungjawab,serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.

Tujuan dari program KWD adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga masyarakat desa sebagai bekal untuk dapat bekerja dan/atau usaha mandiri sesuai dengan potensi/sumber daya lokal (local genius dan lokal resorces) di daerahnya serta memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat pedesaan agar memiliki kompetensi yang diperlukan dalam dunia kerja sesuai dengan jenis kursus yang diikuti, sehingga mampu merebut peluang kerja pada perusahaan/industri dengan penghasilan wajar atau mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Program ini dapat dilaksanakan oleh lembaga kursus (telah terdaftar, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), satuan-asatuan sejenis dan memenuhi persyaratan; seperti Pusat panti latihan Karya, sekolah Menengah kejuruan (SMK), dan lembaga lain yang relevan. Adapun jenis keterampilan yang dapat diselenggarakan melalui program KWD antara lain: Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Kehutanan, PLRT-plus; dan keterampilan lain yang dianggap laku di pasar sekitarnya (marketable).

Jenis keterampilan tersebut harus fungsional praktis dengan kriteria, antara lain; jenis yang dikembangkan merupakan keterampilan yang dibuhkan untuk mengelola dan meningkatkan produksi serta nilai tambah potensi atau unggulan lokal pedesaan, sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan penghasilan masyarakat desa, kemudian mempunyai peluang pasar, baik ditingkat lokal atau regioanal, maupun nasional; serta dapat dimanfaatkan untuk alih profesi.pekerjaan/usaha.

Catetan Kaki: Maraji’/Cateran Kaki: Buletin Kejar Jayagiri BP-PLSP Regional 2 Edisi Pertama, Bulan April 2006 & www.bpplsp-reg2.info .

Disadur oleh: Muhammad Faisal (Aa Faisal)

“ Peran media Komunikasi dalam Pendidikan Luar Sekolah “

Kesadaran masyarakat luas akan fungsi dan peran Pendidikan Luar Sekolah belum berada pada level yang sama dengan kesadaran masyarakat pada pendidikan formal, Padahal pendidikan non formal dapat menjadi pelengkap bahkan pengganti dari Pendidikan formal. Menjadi ironi, karena sebagai pelayan bagi masyarakat “ marjinal “, Pendidikan Non Formal atau Non Formal Education justru masih termarjinalkan di mata masyarakat, karena sampai saat ini paradigma masyarakat masih berorientasi pada pendidikan formal semata.

Kondisi ini menjadi sebuah tamparan dan pada saat yang bersamaan juga menjadi sebuah tantangan bagi dunia Pendidikan Non Formal untuk menunjukkan eksistensinya dalam upaya memberikan pelayanan dan pemerataan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan seperti yang diamanatkan oleh UUD ’45 Memaksimalkan peranan ilmu komunikasi beserta medianya bisa menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan. Ilmu komunikasi secara ilmiah merupakan sebuah proses penyampaian pesan atau informasi dari pengirim (komunikator) kepada penerima (komunikan) dengan menggunakan simbol/lambang tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung (menggunakan media) untuk mendapatkan umpan balik (feedback). Secara umum ilmu komunikasi merupakan proses penyampaian pesan/informasi melalui media dengan tujuan untuk merubah perilaku, baik secara kognitif, afektif maupun sociomotorik.

Melalui media massa (cetak atau elektronik) sebagai media komunikasi, proses penyampaian pesan/informasi menjadi lebih efektif. Pesan dapat dikemas sedemikian rupa sehingga dapat lebih menarik. Melalui efek terpaan dari media yang digunakan, perubahan perilaku dari masyarakat sebagai komunikan akan lebih terasa.

Publikasi dan Promosi program-program pendidikan non formal melalui media massa, akan mempertegas keberadaan pendidikan non formal, sehingga paradigma masyarakat akan berubah, dan pada akhirnya fungsi dari pendidikan non formal bisa lebih dipahami sebagai sebuah peluang untuk terus belajar sepanjang hayat. Maka tidak diragukan lagi bahwa fasilitas peran media komunikasi dan pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik agar semua program yang dilaksanakan oleh Pendidikan Luar Sekolah dapat berjalan dengan baik.


By: Aa Faisal & Kawan-kawan HIMA Prodi PLS FKIP UNTIRTA
Maraji’/Catatan Kaki: Buletin Kejar Jayagiri BP-PLSP Regional 2 Edisi Pertama, Bulan April 2006 & www.bpplsp-reg2.info .